Jumat, 17 November 2017

ANALISIS FILM L’OR BLEU


Titre: L’or Bleu, artinya emas biru. Menurut kami judul ini dipakai karena film ini menceritakan tentang berharganya sebuah air. L’or yang berarti emas. Seperti yang kita tahu, emas adalah sesuatu yang berharga dan dilindungi serta disimpan secara baik baik oleh seluruh umat manusia. Sedangkan Bleu adalah warna yang digambarkan untuk air, dimana dalam judul ini, harapannya orang orang bisa memperlakukan sebuah air seperti sebuah emas.
Scénario écrit par les élèves de CE2 de l’ecole Caroline Aigle de Mondonville.
Réalisation                             : BlueCut Production / Sam Toppan
L’année de production         : Juin 2012
Pemain                                   :
Delphine Soulerot – Guru
Yohan Roualdes - Issa
Huguette Ferial – Murid perempuan 1
Amandine Grosclaude – Murid perempuan 2
Sinopsis                                  :
            Film pendek ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang sedang mengamati orang yang disekelilingnya yang sedang membuang-buang air dengan sia-sia. Lalu anak laki-laki tersebut membayangkan 5 tahun kedepan bagaimana situasi di Prancis jika mengalami kekeringan karena banyak orang yang membuang air dengan percuma. Selain mengamati anak laki-laki tersebut juga membantu menghemat air dengan cara menyumbat saluran air, karena saluran air tersebut menyala terus-menerus.

Analisis Instrinsik
a.     Tema                                       : Lingkungan
Karena film pendek tersebut mencritakan tentang pemborosan air, membuang air dengan sia-sia, dan dapat di prediksikan 5tahun kedepan Prancis akan kekeringan
b.      Alur                                        : Maju dan mundur
Karena menceritakan rangkaian kejadian/peristiwa yang berlangsung secara berurutan dari awal dan kemudian ada saat dimana pemeran utama membayangkan keadaan 5 tahun kedepan lalu rangkaian cerita kembali ke waktu awal tersebut.
c.       Tokoh dan Penokohan         :
 Issa ( pemeran utama )                       : Bijak, baik, penyendiri,dan pendiam
Delphine Soulerot ( guru )                  : Tegas, dan disiplin
 Murid perempuan 1                            : Licik dan nakal
 Murid perempuan 2                            : Pasrah, sabar, tidak pendendam

d.      Latar                                      :
1.      Waktu                              : Pagi dan siang
2.      Tempat                             : Sekolah dan daerah perumahan
3.      Suasana                            : Ramai dan memprihatinkan

Nilai Apresiasi                                   :
a.       Nilai Hiburan
Film ini menarik karena dimana ada suatu kejadian yang membuat penonton tercengang atau kaget yaitu ketika 5 tahun kedepan Prancis akan mengalami kekeringan. Tapi ternyata itu hanya sebuah prediksi dari seorang anak laki-laki.
b.      Nilai Pendidikan/Moral
1.      Jangan membuang-buang air dengan sia-sia / jangan boros air
2.      Gunakan air seperlunya
3.      Jangan mengambil sesuatu yang bukan haknya
c.       Nilai Artistik
Desaign sekolah yang menyediakan permainan-permainan tradisional, seperti: sepak bola, dan lompat tali.
Kritik Film / Penilaian
            Film ini ingin menyampaikan ajakan untuk menghemat air supaya di masa depan tidak terjadi kekeringan karena krisis air. Rangkaian film tersebut ada yang hilang karena tidak dijelaskan bagaimana situasi di desa atau di perumahan ketika terjadi kekeringan, karena di film tersebut hanya menggambarkan terjadinya kekeringan di sekolah saja. Tidak ditampakkan darimana asal air, baik yang untuk diminum maupun yang ada di kran, karena digambarkan di film tersebut, lingkungan sekolah benar-benar kering, sampai tanaman-tanaman benar-benar kering. Unsur-unsur dalam film ini juga saling menyatu, baik unsur instrinsik dan ekstrinsiknya. Film ini sudah cukup menarik dan menghibur, namun sedikit membosankan karena pemeran utama jarangnya ada dialog antar pemain, sehingga penonton harus bisa menyimpulkan sendiri isi dari film tersebut. Nilai pendidikan juga ada karena memang tujuan dari film ini sendiri adalah untuk mengajak para penonton untuk menghemat air. Begitu pula nilai artistiknya juga nampak dalam film ini dengan desain sekolah yang menarik. Dari film tersebut, kita menjadi tersadar untuk menghemat air dan menggunakan air dengan seperlunya, karena bukan tidak mungkin jika di masa depan kita mengalami kekeringan karena krisis air, jika di masa sekarang kita membuang-buang air dengan percuma. Dan dari film ini pula kita dapat mengingat kembali tentang kejadian-kejadian di sekitar, bagaimana orang sering membuang-buang air dengan percuma, bahkan mungkin kita sendiri juga pernah melakukannya tanpa sadar, dan mulai timbul perasaan untuk mengubah sikap-sikap tersebut.




















UNSUR SINEMATOGRAFI



Gambar 1.1. sebuah kran air yang masih menyala tapi tidak gunakan
Pada detik 0:13 digambarkan ada sebuah kran air yang dibiarkan menyala setelah digunakan untuk menyiram tanaman. Kegiatan ini pada umumnya dilakukan pada pagi hari, namun seharusnya setelah melakukan menyiram tanaman kran air dimatikan. Membiarkannya tetap menyala membuat pemborosan pada air. Teknik framing yang digunakan yaitu teknik Medium Close Up.



Gambar 1.2 seorang anak yang berdiri diatas genangan air
Pada detik 00:26 dimunculkan seorang anak laki – laki yang akan berangkat ke sekolah tetapi ditengah jalan langkahnya terhenti karena dia tidak sengaja menginjak genangan air yang disebabkan oleh air kran yang tidak dipakai tadi. Sepatu hitam yang dikenakannya itu belum sampai basah dan teknik sinematografi yang digunakan pada adegan ini menggunakan teknik Close Up.





Gambar 1.3 seorang anak yang mengikat selang air

Pasa detik 0:52 digambarkan anak laki – laki yang mengenakan pakaian olahraga berwarna putih dan celana pendek berwarna putih yang akan berangkat ke sekolah. Ketika dia melihat air sampai tercecer di jalan raya, tanpa berpikir panjang dia langsung mengeluarkan tali yang ada di dalam tasnya dan mengikat kran air supaya air nya berhenti. Dalam adegan ini menggunakan teknik framing Close Up.







Gambar 1.4 seorang anak yang meninggalkan wastafle dengan kran yang masih menyala
Pada menit 1:58 di tampilkan segerombolan anak perempuan yang sedang berada di kamar mandi, setelah menggunakan wastafle mereka malah meninggalkan air nya tetap menyala. Adegan ini diambil dengan menggunjakan teknik framing Medium Shot.






Gambar 1.5 Segerombolan anak laki – laki yang bermain air pada wastafle
Pada menit 2:04 di tampilkan segorombolan anak laki – laki yang bermain air di wastafle. Hal ini sebaiknya jangan sering dilakukan karena dapat membuat krisis air di kemudian hari. Teknik framing yang digunakan pada scene ini adalah Full Shot.







Gambar 1.6 anak – anak yang sedang bermain bola
Pada menit 2:19 ada adegan segerombolan anak – anak yang sedang bermain bola dan ada juga salah satu anak yang sedang iseng menyiram air pada teman – temannya yang sedang bermain bola. Pada adegan ini menggunakan tekning framing Long Shot.











Gambar 1. 7 Suasana lingkungan yang digambarkan sangat kering, tumbuhan di sekitarnya mati.
Pada detik 3:32 digambarkan suasana outdoor yang kering kerontang, tanaman terlihat membutuhkan air. Adegan ini diambil dengan menggunakan teknik framing Extreme Long Shot.






Gambar 1.8 Seorang guru yang berdiri di depan kelas.
Pada detik 3:56 Seorang guru menerangkan didepan kelas. Tertera waktu di papan tulis “Selasa 23 Juni 2017”, pada hari itu, anak anak di kelas diperingatkan untuk menghemat air karena pada tahun tersebut air bersih sudah sangat sulit ditemukan. Dalam scene ini menggunakan teknik framing Medium Close Up.







Gambar 1.9 Barisan murid yang mengantri untuk mencuci tangan.
Pada detik 4:30 terlihat deretan murid harus mengantri masuk kamar mandi di sekolahnya, demi mendapatkan air bersih untuk mencuci tangan. Satu per satu mendapatkan sedikit air demi tetap menjaga kebersihan tangan. Dalam adegan ini menggunakan teknik framing Knee Shot.








Gambar 1.10 Seorang anak sedang meratapi tumbuhan yang kekeringan.
Pada detik ke 4:51 terlihat gambar seorang gadis kecil yang memegang tanaman kering. Ia tampak sedih dan meratapinya. Seperti muncul mimik muka menyesal pada raut wajah sang anak. Pada adegan ini menggunakan tekning framing Medium Close Up.








Gambar 1.11 Seorang anak yang berbuat curang dengan mengisi botol minumnya yang telah habis dengan air temannya.
Di detik 5:01 seorang anak mengisi botol minumnya yang sudah kosong dengan air minum milik temannya. Padahal di dalam kelas, setiap anak sudah diberi botol satu satu. Tetapi karna panasnya cuaca mebuat air dalam botol cepat habis. Dan karna langkanya air, seorang anak mengambil air milik temannya. Dalam scene ini menggunakan teknik framing Close Up.







Gambar 1.12 Seorang pria berkulit hitam meratapi air keran yang masih menyala

Menyesalkan perbuatan teman temannya yang lupa diri akan pentingnya air bagi kehidupan. Lupa keadaan saat seluruh manusia nantinya akan benar benar membutuhkan air. Pada adegan ini menggunakan teknik framing Big Close Up.

Kesimpulan:
Film ini lebih banyak menggunakan teknik Close Up, untuk memperjelas ekspresi atau tindakan tokoh, dan juga memperjelas apa yang ingin disampaikan dari film tersebut. Hal itu sangat mendukung film ini agar penonton dapat memahami apa yang ingin disampaikan dari film ini. Sudah sangat jelas bahwa apa yang ingin disampaikan dari film ini adalah ajakan untuk menghemat air, supaya di masa depan, tidak terjadi kekeringan. Walaupun mungkin saat ini dirasa air sangat melimpah, tapi kita tidak akan pernah tahu bahwa di masa depan bisa saja terjadi kekeringan jika kita tidak menghemat air dari sekarang.

ANGGOTA KELOMPOK:
Dwi Elok Yunitasari
Fifi Refa Ayuni
Sabrina Anadya Ibadi
Syifa Shara Salsabila

Rabu, 18 Oktober 2017

Analisis Unsur Naratif Film "Jean de Florette"

JEAN DE FLORETTE




Sutradara : Claude Berri
Produser :Pierre Grunstein , Alain Poiré
Tahun produksi :27 Agustus 1986

Pemain :
Nama aktor/aktris :

Yves Montand - Cesar
Gérard Depardieu– Jean de Florette

Daniel Auteuil–Ugolin
Elisabeth Depardieu – Aimee Cadoret
Ernestine Mazurowna - Manon

1. Sinopsis
Film ini bercerita tentang keluarga dari kota yang berpindah ke sebuah desa yang dihuni oleh masyarakat petani Prancis. Melihat kepindahan orang kota tersebut, para masyarakat menjadi iri dan memandang sebelah mata keluarga tersebut. Namun keluarga tersebut tetap bersikap baik kepada penduduk sekitar, dan mereka tidak patah semangat dalam berusaha untuk mengolah perkebunan mereka.Beberapa pihak ada yang licik dengan berpura-pura baik namun memikirkan cara untuk menggagalkan perkebunan keluarga tersebut. Sampai kemudian ketika cuaca sedang tidak hujan, sehingga tanaman-tanaman di kebun keluarga tersebut menjadi kering dan mati. Orang yang licik tadi menjebak keluarga tersebut. Sampai akhirnya kepala keluarga tersebut, Jean de Florette, memiliki ide untuk meledakkan sumur untuk mengeluarkan air dari dalam tanah.Namun terjadi bencana. Jean terkena reruntuhan dari ledakan sumur tersebut sampai akhirnya Jean meninggal. Dari ledakan tersebut, air pun keluar dari sumur, air tersebut justru dimanfaatkan oleh penduduk setempat yang awalnya tidak menyukai keluarga Jean. Dari situ anak Jean yang bernama Manon melihat orang-orang jahat yang justru memanfaatkan hasil jerih payah ayahnya, dan berniat untuk membalaskan dendam.

2.    Analisis Intrinsik

a. Tema : Persaingan
(Karena ketika keluarga Jean datangkedesatersebutbanyak orang yang iridandengkiterhadapkeluargatersebut, karenakeluargatersebutmempunyaiusahaperkebunan, danusahatersebutsuksesdisitulahtimbulpersainganantarpetanididesaitu. )

b.    Alur :Maju
Karenamenceritakarangkaiankejadian/peristiwa yang berlangsungsecaraberurutandariawalsampaiakhir.Dari memperkenalkansuasanapedesaan yang penuhdenganparapetanihandal, sampaipadaakhirnyakeluarga Jean datangkedesatersebutuntukmelakukanmisinyayaitu, menyukseskanlahanpertaniannya.Hingga di akhirceritakesuksesan Jean diambilolehpihakpihak yang tidakmenyukainya.Semuaitudiceritakansecararuntutkedepan.


b. Tokoh dan penokohan :

1. Cesar: iri, licik
2. Jean: sabar, pekerjakeras, setia
3. Aimee (Istri Jean): sabar, penurut, pekerjakeras
4. Manon (Anak Jean): penurut, kerjakeras
5. Ugolin (paman Cesar): iri, licik, sukameremehkan

c.   Latar :
Misal :
a)         Waktu :Sekitartahun 1986
b)        Tempat :Desa
c)         Suasana :
 1. Tegang
2. Haru
3. Sedih

3.    Nilai-nilaiapresiasi
a)      NilaiHiburan
Film ini menarik dan membuat penonton penasaran karena isi ceritanya yang susah ditebak dan akhir film tersebut membuat kita tercengang.
b)      Nilai Pendidikan/Moral
1.   Jangan memandang seseorang dari sebelah mata saja,
2. Setiap usaha yang sungguh-sungguh pasti ada hasilnya. Karena setiap hasil tidak akan menghianati proses,
3. Jangan iri dengan hasil orang lain, karena setiap orang mendapatkan hasil dari apa yang telah diusahakannya.

c)      Nilai Artistik
1. Dekorasi rumahnya yang mencerminkan dekorasi klasik tahun 80an.
2. Wardrobe yang digunakan juga menggambarkan style pakaian tahun 80an.
3. Pemandangan desa yang indah dilihat dari pengambilan gambar dengan teknik extreme long shot.


4. Kritik Film (Penilaian)
Bagian awal film terkesan membosankan karena terlalu datar dan bertele-tele. Film ini menerangkan tentang kehidapan yang harus bekerja keras dalam situasi apapun, dan sikap iri atau dengki yang harus dihilangkan dengan sesama manusia. Semua unsur yang ada didalam film ini sudah menyatu karena telah membuat penonton mengerti jelas jalan ceritanya hingga mencapai inti dari permasalahan yang ada.
Untuk nilai hiburan film ini menarik dan membuat penonton penasaran karena isi ceritanya yang susah ditebak dan akhir film tersebut membuat kita tercengang. Dari segi nilai pendidikan film ini mengajarkan dilarang menilai seseorang dengan hanya sebelah mata saja, apapun yang sudah dilakukan dengan usaha yang sungguh-sungguh pasti ada hasilnya karena setiap hasil tidak akan menghianati proses, dan janganlah memelihara sifat yang keji seperti iri atau dengki karena itu bisa menimbulkan niat jahat pada diri sendiri. Mengenai nilai artistik, film ini menggambarkan kejadian pada masa tahun 80an. Dari segi dekorasi latar dan kostum yang dikenakan oleh para pemain, serta menggunakan teknik framing extreme long shot yang menampilkan pemadangan desa pada saat itu.
Pengalaman batin yang di dapatkan setelah melihat film ini saat actor Jean meninggal setelah dia berusaha mencari jalan untuk membuat saluran air. Hal ini membuat penonton menjadi kecewa dengan akhir cerita yang membiarkan tokoh protagonis meninggal dan membiarkan para tokoh antagonis yang mendapatkan kepuasan di film itu. Serta Manon yang menjadi pemeran dari putri Jean merasa sedih atas kepergian ayah tercintanya dan sakit hati melihat perlakuan teman-temannya yang ternyata hanya memanfaatkan hasil kerja keras dari ayahnya tersebut. Pada adegan itu menggiring penonton menjadi iba, jengkel dan penasaran atas tindakan yang akan dilakukan Manon setelah mengalami kejadian tersebut.
Setelah menonton film tersebut pandangan akan suatu aspek kehidupan tentang orang-orang di sekitar kita yang kelihatannya baik, tapi ternyata di belakang menjelek-jelekkan, mencela, bahkan mempersiapkan hal buruk untuk dilakukan pada kita. Hal tersebut dipertajam setelah menonton film ini, ketika seorang Jean bertemu dengan Cesar yang awalnya dikira baik dan membantunya, ternyata ketika Jean meninggal, Cesar justru menikmati sendiri hasil jerih payah Jean bersama dengan pamannya.


Oleh:
Dwi Elok Yunitasari
Fifi Refa Ayuni
Sabrina Anadya Ibadi
Syifa Shara Salsabila

Kamis, 28 September 2017

Analisis Sinematografi Film “Majorité Opprimée”

Dalam menganalisis suatu jalan cerita dari sebuah film, kita tidak hanya bisa menganalisisnya dari sisi naratifnya saja. Akan tetapi, kita bisa menggunakan unsur sinematografi, yang mendukung agar jalan cerita yang ingin ditampilkan bisa menjadi lebih jelas atau lebih dramatis, yaitu lewat teknik framing nya, lighting, atau bahkan kostum yang dikenakan oleh pemain. Pada kesempatan ini, kelompok ini akan menganalisis film Majorité Opprimée dari sisi sinematografinya. Setelah secara naratif kami mengetahui jalan cerita dari film ini, kami akan menganalisisnya dari sisi sinematografi. Dari sisi naratif, kami mengetahui bahwa jalan cerita dari film ini adalah mengisahkan tentang bagaimana jika kedudukan antara laki-laki dan perempuan menjadi terbalik. Berikut ini adalah hasil analisis kami tentang film Majorité Opprimée dari sisi sinematografi.

1. Laki-laki mengurus anak
Dalam film ini, mulai di detik 45, seperti yang ditampilkan di gambar 1.1 terlihat pemeran utama dalam film tersebut, yang seorang laki-laki, sedang mendorong kereta bayi. Kemudian pemeran utama membawa anaknya ke sebuah penitipan balita. Terlihat disini bahwa kegiatan membawa anak ke penitipan menjadi kegiatan sehari-hari dari pemeran utama, karena sang pemeran utama terlihat sangat santai dan terbiasa ketika membawa anaknya ke penitipan. Padahal di dunia nyata, kegiatan mengurus anak merupakan tugas keseharian dari seorang perempuan atau ibu. Namun dalam film ini justru laki-laki atau ayah yang mengurus anak. Teknik framing yang digunakan adalah long shot untuk menampilkan laki-laki itu beserta kereta bayi yang didorongnya. Dari teknik ini pula dapat dilihat bahwa lingkungan di sekitarnya seperti sebuah perumahan. Pakaian yang digunakan oleh pemeran utama tersebut juga pakaian santai, yang menunjukkan bahwa dia tidak bekerja.

Gambar 1.1, pemeran utama yang seorang laki-laki mendorong kereta bayi

2.    Perempuan tak malu bertelanjang dada

Dalam gambar 1.2 dan 1.3 terlihat bahwa perempuan tak malu bertelanjang dada. Para perempuan itu terlihat santai dan biasa saja ketika jogging dengan bertelanjang dada. Padahal dalam dunia nyata yang biasanya bertelanjang dada itu kaum laki-laki. Dari teknik framing menggunakan medium long shot untuk menampilkan bagaimana para perempuan tersebut nampak biasa saja bertelanjang dada di jalan dan di depan laki-laki. Selain itu, di gambar 1.2 terlihat bahwa badan tokoh perempuan menghadap ke arah kamera, sedangkan pemeran laki-laki membelakangi kamera, disini terlihat fokus dari frame ini adalah untuk menampilkan tokoh perempuan yang biasa saja bertelanjang dada di depan laki-laki. Begitupun di gambar 1.3, tokoh perempuan sedang jogging melewati pemeran utama, dan posisi tokoh perempuan lebih dekat dengan kamera dibandingkan dengan pemeran utama, untuk menampilkan dengan jelas bahwa fokus dari frame ini adalah si tokoh perempuan yang bertelanjang dada.
             

Gambar 1.2 dan 1.3 para perempuan tampak santai dan biasa saja ketika beraktivitas di luar rumah dengan bertelanjang dada

3.    Tempat penitipan anak diurus oleh seorang laki-laki

Pada umumnya di dunia nyata, tempat penitipan anak diurus oleh perempuan. Namun berbeda halnya dalam film ini. Tempat penitipan anak diurus oleh seorang laki-laki. Dari nama tempatnya saja yang terdapat kata ‘paternelle’, menunjukkan bahwa yang mengurus anak di penitipan tersebut adalah laki-laki atau seorang ayah. Pada gambar 1.4 ditampilkan tulisan kata 'Nissar  Aide Paternelle' dengan teknik close up, agar para penonton pun bertanya-tanya, karena biasanya tempat penitipan anak bertulis 'maternelle', diurus oleh perempuan, namun di film ini bertulis 'paternelle', yang berarti tempat penitipan anak itu dijaga oleh laki-laki. Kemudian pada gambar 1.5 ditampilkan seorang laki-laki yang menjadi pengurus tempat penitipan anak itu, seolah memberi jawaban atas tulisan 'paternelle' yang membuat penonton bertanya-tanya. selain itu menggunakan teknik frame medium long shot, untuk menampilkan si laki-laki pengurus penitipan anak tersebut dan latar di sekitarnya yang menunjukkan mainan anak-anak dan beberapa perabotan dapur.


Gambar 1.4 dan 1.5 tulisan kata 'paternelle' dan laki-laki pengurus tempat penitipan anak

4.    Seorang pria membuka kancing baju ditempat umum
Pada detik 2:53 – 2:55 diketahui bahwa seorang pria membuka kancing ditempat umun. Dengan membuka kancing ditempat umum itu merupakan salah satu faktor dimana akan mengundang hawa nafsu lawan jenis. Jika dikaitkan dengan kehidupan nyata, banyak sekali perempuan-perempuan yang memakai baju yang memperlihatkan dadanya. Dengan teknik medium long shot menampilkan dengan jelas dari depan bahwa pemeran utama sedang bersepeda sambil membuka kancing bagian atas bajunya di jalan. Kemudian pada detik selanjutnya diperjelas lagi dengan teknik close up adegan ketika pemeran utama membuka kancing bajunya pada gambar 1.7.
 


Gambar 1.6 dan 1.7 pemeran utama pria membuka kancing baju bagian atas ketika sedang bersepeda di jalan raya.

5.    Menggunakan celana ketat dan pendek dan digoda oleh perempuan
Pada detik 3:12  si pria menggunakan celana pendek dan ketat, ketika dia sedang berada di lampu merah, si pria itu sedang di goda oleh wanita jalanan yang berandal. Karena dengan celana itulah menjadikan wanita berandal jalanan itu menjadi menggodai si pria itu. Dalam kehidupan nyata, biasanya justru perempuan yang akan digoda oleh laki-laki berandal yang ada di pinggir jalan. Pada gambar 1.8 diperlihatkan dengan jelas melalui teknik long shot, seorang wanita yang sedang memperhatikan pemeran utama sambil menggodanya. Di adegan ini terlihat dengan jelas bahwa yang menjadi fokus disini adalah wanita berandal tersebut yang sedang menggoda pemeran utama, dengan latar di sekitarnya di blur, dan menampilkan pula potongan dari bagian kaki pemeran utama yang menggunakan celana ketat dan pendek yang membuatnya digoda oleh wanita berandal tersebut. Selain itu wanita itu juga menggunakan pakaian yang tidak rapi, sepatu boots serta rambut gimbal, yang menguatkan karakternya sebagai seorang wanita berandal.

Gambar 1.8 pemeran utama laki-laki digodai oleh perempuan berandal di pinggir jalan karena menggunakan celana ketat dan pendek

6.    Perempuan buang air kecil di luar ruangan
Pada gambar 1.9 ditampilkan dengan teknik long shot seorang perempuan sedang buang air kecil di sebuah gang kecil, dimana pemeran utama berhenti di depan gang tersebut. Kedua tokoh ini ditampilkan di tengah-tengah kamera untuk menjadi fokus dari adegan ini. Dalam kehidupan nyata, jelas tindakan yang dilakukan oleh tokoh perempuan sangatlah berbanding terbalik, karena biasanya yang berani buang air kecil di luar ruangan adalah laki-laki.

Gambar 1.9 seorang tokoh perempuan buang air kecil di sebuah gang kecil

7. Segerombolan wanita nakal yang sedang menggoda seorang pria
  Pada menit ke 4:20 menunjukan bahwa sedang ada segerombolan wanita nakal yang sedang menggodai seorang pria disebuah tempat yang sepi. Pola pengambilan gambar adalah Long Shoot, supaya memperjelas bahwa tidak hanya 1 orang saja yang sedang menggoda pria tersebut tetapi ada 4 orang, dan memperlihatkan dari segi pakaian yang dipakai yaitu pakaian yang tidak rapi dan terkesan nakal.
 

Gambar 1.10 beberapa perempuan yang menggoda pemeran utama laki-laki

8.  Pria dilecehkan dan diancam oleh segerombolan perempuan
    Terlihat pada gambar 1.11 bahwa pemeran utama dipojokkan di dinding, dan diancam oleh pisau oleh beberapa perempuan. Dengan teknik medium close up, dapat kita lihat bahwa salah satu perempuan menempelkan pisau ke leher pemeran utama, dan dapat kita lihat pula ekspresi menantang dari perempuan-perempuan tersebut dan ekspresi takut dari pemeran utama. Dari segi pencahayaan pula menggunakan cahaya yang sedikit redup untuk menimbulkan dan menguatkan kesan tegang pada adegan tersebut. Selanjutnya dapat kita lihat dengan teknik close up bahwa salah seorang perempuan membuka resleting celana pemeran utama pada gambar 1.12.


Gambar 1.11 dan 1.12 pemeran utama dipojokkan, diancam dan dilecehkan oleh beberapa perempuan

9.  Polisi di kantor polisi kebanyakan wanita
   Pada menit 5:12, terlihat di sebuah kantor polisi dan di kantor polisi tersebut polisi yang ada kebanyakan wanita. Seperti pada gambar 1.13 terlihat seorang polisi wanita sedang memegang buku dengan seragam polisi dan pada gambar 1.14, terlihat dua orang polisi wanita sedang berpapasan. Dengan teknik medium close up, menampilkan seragam bagian atas mereka sebagai seorang polisi.


Gambar 1.13 dan 1.14 polisi yang ada di kantor polisi tersebut kebanyakan wanita.

10.Seorang polisi wanita menggoda pelayan laki-laki dengan kata-kata rayuan
   Dengan teknik close up dapat dilihat ekspresi seorang polisi wanita menggoda seorang pelayan laki-laki dengan memuji penampilannya, seperti yang nampak pada gambar 1.14. Pada dunia nyata yang sering kita temui adalah polisi laki-laki menggoda pelayan perempuan.
 

Gambar 1.15 polisi wanita sedang menggoda pelayan laki-laki dengan kata-kata

11.Pemeran utama dimarahi oleh istrinya karena mengenakan pakaian yang mengundang nafsu
     Dalam adegan yang nampak pada gambar 1.16 yang menjadi fokus adalah ekspresi kemarahan dari istri sang pemeran utama karena pemeran utama mengenakan pakaian yang mengundang nafsu, sehingga digoda oleh perempuan-perempuan di jalan. Ekspresi marah sang istri nampak jelas dengan teknik close up pada wajah sang istri. Selain itu, setting malam hari juga dipilih untuk menampilkan dan mendukung suasana menegangkan dari pertengkaran antara suami istri tersebut.

Gambar 1.16 sang istri marah kepada pemeran utama 
Kesimpulan: film ini menceritakan tentang bagaimana kedudukan antara laki-laki dan perempuan terbalik. Apa yang biasa dilakukan oleh perempuan dilakukan oleh laki-laki dan begitujuga sebaliknya. Film ini juga memberi peringatan kepada para laki-laki untuk tidak melecehkan perempuan. Supaya sebaiknya sebagai manusia kita saling  menghargai satu sama lain, tanpa memandang gender, usia, dan SARA.
Menurut kami film ini sangat bagus dan mengena dalam penyampaian pesannya agar laki-laki dan perempuan dapat mendapatkan hak dan kewajibannya masing-masing dan saling menghargai, tanpa merasa dirinya adalah mayoritas atau gender yang lebih tinggi dari yang lain.

Oleh:
Fifi Refa
Sabrina Anadya
Dwi Elok
Syifa Shara

untuk memenuhi tugas Apresiasi Film Prancis